SERUAN BAHASA DE BRITTO

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Energi terbesar dalam tata surya kitaadalah matahari. Semua orang pasti tahu bahwa panas matahari yang kita terima pasti berasal dari sebuah energi yang sangat besar, namun ditahan oleh lapisan-lapisan yang ada di bumi kita tercinta ini.
Akhir-akhir ini kita merasakan panas yang amat sangat pada siang hari. Ini semua berawal dari sebuah istilah yaitu global warming. Sudah banyak artikel tentang pengurangan efek global warming yang tertulis di media cetak atau pun di media dunia maya. Kalau kita mengandaikan semua orang sudah membacanya atau minimal diberi tahu oleh orang lain tentu saja setiap orang pasti menyadarinya. Yang menjadi keanehan adalah orang-orang hanya sekedar tahu dan mengerti saja dan tidak mempraktik
Read More …

Sudah 64 tahun Indonesia merdeka dan berkembang. Sebagaimana kita ketahui usia 64 tahun adalah usia yang sudah memasuki masa dimana kita mempunyai banyak pengalaman dan menjadi semakin bijak. Usia yang sudah bisa mengayomi dan memberi nasihat. Usia dimana bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Namun, masih banyak hal yang perlu menjadi keprihatinan bangsa kita tercinta ini.
Biasanya kita hanya bisa melihat keprihatinan yang besar. Seperti korupsi merajalela, teroris yang semakin menjadi, dan budaya buruk lainnya. Namun kita jarang memperhitungkan tentang bahasa. Ya, itulah yang kan saya bahas dalam esay kita ini. Sesatu yang kita gunakan sehari-hari, yang kita banggakan sebagai bangsa Indonesia namun jarang kita ketahui dasarnya.

Kalau kita membacarakan tentang salah atau benarnya haruslah kita mempunyai dasar. Marilah kita menilik buku EYD dan Buku Kata Baku pelajaran bahasa Indonesia kita. Tak perlu jauh-jauh mencari kesalahan orang lain. Dalam hal berbahasa pun kita sering salah. Mulai dari menulis surat, kita pati menulis kpd. sebagai singkatan dari kata kepada. Hal itu kurang tepat bila ditinjau dari kebahasaan Indonesia.
Kita juga sering menemui kata tidak baku bertebaran di pinggir-pinggir jalan kita. Seperti di kawasan pariwisata, kita sering menemukan toko bertuliskan cindramata atau cendramata. Kedua hal itu bukanlah sesuati yang asing dan dianggap lazim. Bila kita lihat dari kebakuan katanya, maka hal tersebut salah. Yang benar adalah cenderemata. Apakah kesalahan berbahasa bahasa nasional di negeri sendiri dianggap lazim?
Pada poin selanjutnya saya akan mebicarakan tentang pembelokan pengertian. Pada sekitar tanggal 17 Agustus kita banyak menemui spanduk-spanduk bertuliskan “Dirgaharu Republik Indonesia ke 64”. Padahal arti dari dirgahayu sendiri adalah panjang umur. Biasanya orang menganggap kata dirgahayu sebagai ungkapan selamat dispanduk tersebut.
Kesimpulan dari tulisan kita ini adalah di umur ke 64 ini kita sebagai bangsa Indonesia harus semakin cinta dengan bahasa kita. Bagaimana kita mau sayang bila tidak mengenalnya? Mari kita junjung bahasa nasional kita di negeri sendiri. Jangan sampai bahasa nasional kita di klaim oleh Negara lain karena kita sendiri melupakannya. Merdeka! Merdeka! Merdeka!



Read More …


Keluarga adalah sebuah lembaga pertama dan paling sederhana yang dijumpai seseorang individu. Pada saat lahir, seseorang akan langsungberhadapan dengan keluarganya. Ketika berada di dalam keluarga, seseorang mulai ditanamkan nilai-nilai politik.

Anak dididik untuk menghargai otoritas seorang ayah dan ibu dan juga orang yang lebih tua. Tentu saja ditanamkan pula kaidah-kaidah yang harus dipatuhi oleh anak, serta nilai-nilai dan keyakinan politik dari kedua orang tua.
Pengalaman berpartisipasi dalam pembuatan keputusan keluarga dapat meningkatkan kopetensi politik pada anak dan dapat pula memberi kecakapan-kecakapan untuk melakukan interaksi politik.
Bila dalam sebuah keluarga yang bersifat keras dan ditanamkan sukap patuh dan hormat secara ketat, memungkinkan anak menjadi pribadi yang tertutup dan penakut sehingga si anak tidak terbiasa berdialog dengan orang tua atau orang yang lebih tua. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap masa depan seorang anak. Bisa jadi ketika anak itu tumbuh dewasa hanya menjadi pribadi yang menurut saja dengan aturan-aturan yang ada sekalipun aturan itu akan menyiksa dirinya. Anak itu kemungkinan akan memiliki kecenderungan untuk patuh dan diam. Ada kemungkinan pula anak itu akanmenjadi tidak bisa berdiplomasi.
Sebaliknya jika anak itu berada dalam keluarga yang terbuka, maka anak itu akan menjadi pribadi yang dapat mengutarakan titik lemah dalam sebuah lembaga baik itu keluarga atau yang lainnya. Kebiasaan keluarga yang seperti ini akan membawa nilai positif bagi si anak, karena anak menjadi terbuka dan berani mengutarakan pendapatnya kepada orang lain. Mungkin akan terjadi kecenderungan anak menjadi pribadi yang demokratis. Anak akan mudah berdiplomasi dan anak akan menjadi pribadi yang matang dan dipandang oleh masyarakat sebagai orang yang memiliki kebijaksanaan.
Kedua pembeda tadi patut diperhatikan dalam keluarga untuk memikirkan masa depan si anak.kedua hal tadi merupakan salah satu dari sekian banyak faktor polotik dalam keluarga. Sikap politik harus ditanamkan sedini mungkin terhadap seseorang. Cara seperti ini mungkin dapat berguna bagi negara karena ada bibit-bibit politik dalam setiap warga negara sehingga sebuah negara dapat maju sedikit demi sedikit.
Kehidupan sehari-hari memang tidak lepas dari politik, karena setiap negara pasti memiliki sebuah sistem politik. Maka dari itu, sikap dalam berpolitik harus ditanamkan sedini mungkin terhadap seseorang dan dilakukan dalam sebuah lembaga politik yang paling sederhana yaitu keluarga.
Read More …

Seperti yang banyak orang katakan, hidup ini seperti roda yang berputar. Kadang di atas kadang di bawah kadang untung kadang rugi. Banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk kesenangan bukan untuk melayani. Bukankah tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk saling melayani, mengasihi, menghormati? Tapi kenapa banyak yang masih saja melakukan kekerasan, kecurangan yang semua itu pada akhirnya adalah kesengsaraan. Aku menjadi merasa kasihan kepada dunia yang telah diciptakan untuk kita nikmati dan kita kembangkan ini. Apabila kita bayangkan bila kita yang menciptakan dunia ini. Misalnya kita ingin menciptakan dunia yang dimana seisi dunia tersebut harus rukun, hidup berdampingan, saling malayani, saling menghormati, saat waktu awal-awal memang rasanya sudah seperti yang kita inginkan. Namun pada akhirnya ada orang atau suatu makhluk di dunia yang kita buat tersebut yang merasa tidak puas dengan yang ciptakan atau kita tentukan sehingga pada akhirnya orang atau suatu makhluk tersebut melakukan yang melanggar dengan yang telah kita tentukan. Apakah kita akan mengasihani orang atau makhluk tersebut? Apakah kita akan menghukum orang atau makhluk tersebut? Hal ini sama seperti yang terjadi di dunia ini
Kita sering kali melakukan yang tidak sepantasnya kita lakukan atau kita melakukan yang telah kelewat batas karena kita tidak pernah merasa puas. Memang rasa dihati kita ini menjadi enak ketika kita sudah merasakan sampai puas yang kita inginkan. Tetapi ada peribahasa yang mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dari peribahasa tersebut tanpa kita sadari kita telah membaliknya menjadi berenang-renang ke hulu berakit-rakit ke tepian bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian. Dari rasa ketidakpuasan kita tadi ternyata telah membalik peribahasa yang sudah mutlak dan tidak bisa diubah lagi. Kita berfoya-foya di dunia ini, kita menghabiskan waktu kita di dunia ini hanya untuk bersenang-senang, bahkan ada yang sampai mengatakan bahwa “urip ki mung mampir ngombe” (bhs jawa: hidup ini hanya mampir minum), dari pernyataan terakhir tadi sampai diartikan secara mentah yaitu minum di situ diartikan sebagai mabuk sehingga kita ini hanya mampir mabuk jadi kita di dunia ini boleh mabuk sampai puas. Berawal dari kesalahan kecil, kita dapat memutar balikkan fakta yang bisa berakibat fatal bagi kehidupan kita. Kita tidak boleh mengartikan segala sesuatu secara mentah. Seperti saat kita ingin makan, kita tidak bisa makan secara mentah kita harus mengupasnya sehingga kita dapat mengambil bagian yang penting. Maka dari itu kita harus berhati-hati dengan segala sesuatu, memang segala sesuatu itu ada resikonya, tetapi kita bisa memperkecil resiko yang mungkin bisa terjadi dengan mengupas masalah yang akan kita hadapi dan kita mengambil keputusan yang tidak merugikan siapa-siapa
Bila kita mengingat yang mencipakan kita, bagai mana rasa hatinya dengan semua perbuatkan kita bila kia hanya mengartikan hidup secara mentah. Sama seperti kita menciptaka dunia dengan isi yang harus sejlan dengan kita namun ada yang membelot, bagaimana perasaan kita? Kita akan merasa sedih dan kecewa karena yang kita ciptakan tadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Kita harus bersyukur, kita harus menggunakan hidup ini untuk pelayanan sehingga jalan hidup kita ini sejalan dengan yang menciptakan kita. Kita sudah bisa membayangkan bagainama sakitnya bila kita menginginkan sesuatu yang pada akhirnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Akan sama dengan ketika kita berpacaran, kita mencintai seseorang dan kita berhasil mendapatkannya, namun pada akhirnya orang yang sangat kita cintai tersebut berkhianat terhadap kita, orang tersebut ingkar janji terhadap kita. Sama teman-teman, sama dengan yang menciptakan kita. Dia mencintai kita dengan setulus hati-Nya namun kita malah semakin menjauh dengan-Nya lewat jalan kenikmatan, keserakahan, dan lainnya
Read More …