SERUAN BAHASA DE BRITTO

Tampilkan postingan dengan label FILOSOFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILOSOFI. Tampilkan semua postingan

Sebagian besar dari kita sekalian pasti tahu/mengenal salah satu tokoh pewayangan yang bernama SEMAR.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dime
Read More …

Bintang keemasan mewarnai hari-hariku yang kelabu, meninggalkan jejak berupa kotoran seorang pengadu setan. Tanah ini masih perawan, belum dicumbu tanah cinta, tanah harmoni, dan tanah fana. Imaji rendah menerawangi jalanku yang sudah terlalu terang, membutakan penglihatanku dari belakang, tidak tahu apa yang terlihat, tidak tahu apa yang tersentuh. Semuanya hanya begitu saja, lingkaran berbasis persegi yang tidak terbentuk secara umum dan tidak terlihat secara khusus. Aneh bukan ke
Read More …

Terbentang luas padang berwarna putih kelam (mungkin merah muda), se-meter, dua-meter, tiga-meter… Terus meluas dan meluas, saking luasnya hatiku tersesak oleh tanda-tanda kehidupan liar yang akan kujalani malam ini.

Baunya harum, wangi semerbak layaknya bunga yang sudah disemprot Casablanca. Rasanya nikmat, sedap tak tergoyahkan semanis Alpenliebe, untuk terus kunikmati dengan penuh semangat tanpa henti. Bila disentuh… Ahm, betapa lembutnya, seempuk Softex yang biasanya engkau pakai.
Nafsu mendatangiku… Nafsu memelukku… Nafsu menciumku… Nafsu menelanjangiku…
Api datang, ia marah. Sungguh sial aku hari ini. Air gunung mengalir secepat peluru. Peluru secepat angin. Angin semilir mengembangkan sayap-sayap kehidupan yang akan memulai musik, musik dari provokasi yang terjaga dan mendayu-dayu tubuh dan jiwaku.
Cermin menertawakanku karena kelucuan yang tak sengaja kusengaja kulakukan. Ia bingung, tapi tetap tertawa. Sebentar… Apa itu?...
Bintang Suhadiyono, 2 Oktober 2009, 21.56 WIB… dengan sengaja, ia menulis…

Read More …

Separuh tulisan kubangun dengan penuh air mata kebingungan dan penyesalan yang tak kan kau pahami perbedaan secara keseluruhan. Karena memang tiada yang sempurna kecuali si dia. Yah, dia yang tak terabadikan oleh angan dan rasa, mata dan hati, jiwa dan raga, serta lidah kebingungan dan erosi makna pada saat kita menanyakan bahwa ia hanyalah bayangan fakta yang “imaginer?”.

Tiada lagi prasangka burukku padanya. Aku yakin padanya. Aku percaya padanya. Aku selalu berpikir bahwa ia akan selalu setia padaku untuk selama-lamanya. Apakah kau juga memiliki pikiran yang sama seperti yang kubayangkan? Dong ra sing tak ucapke mau? Semuanya sama saja. Bajingan. Sok mengerti, sok mengepalai apa yang kukepalai, padahal tak sadar bahwa kamu ternyata tidak mempunyai kepala!
Ia “imaginer”? Ia “khayalan”? Kenapa kalian membuat prasangka yang lebih membunuh? Lebih memfitnah hati dan pikiran yang sudah mencuci otakku dalam ?
Ini bukan lagi suatu konflik, ini perang! Peperangan yang sudah didahulukan oleh para tetua yang sok mengerti itu tapi tidak mengerti ini, mereka mengerti dia tapi tidak mengerti dia. Dasar munafik! Ketololan yang melibatkan kaki dan tangan kita melepuh karena belenggu. Belenggu nafas dan hasrat untuk terangsang dalam suatu konflik yang benar-benar menghitamkan susu yang kita tuang kedalam gelas kaca penuh retak.
INI APA?
ASU, INI FILOSOFI!
FILOSOFI APA?
BAJINGAN, KUBILANG INI FILOSOFI!
IYA, TAPI FILOSOFI APA?
COCOTE LAH, TERUSKAN SAJA DARI D SAMPAI Z!!!
Bintang Suhadiyono, 12 September 2009, 20.24 WIB… dengan menghujat, ia menulis…

Read More …

Cinta itu kecil dan berwarna, efeknya dahsyat dan menggemparkan setiap lembar alam semesta yang telah kujalani dalam hidupku. Tersumbat dalam lubang hitam penuh rasa dan asa. Hatiku memang terpuruk, namun kisah belum terminum oleh rindu.
Bisa hitam, bisa putih. Itukah cinta?
Bukan, dalam hidup layaknya suatu karya sastrawan sejagad pun, pasti ada abu-abunya. Hidup ini kisah, kisah itu cinta, cinta adalah aku. Aku terpuruk, begitu pula dia.
Percuma sudah kuambil kunci, kunci dari kehidupan yang terang, terang karena dosa. Musik menerawang lukaku yang sudah terbaret oleh rindu. Banyak rasanya, kerenyahan dari alunan orang-orang yang tertawa akan kepanikanku walau kaki dan tangan jiwa sudah tak mau menurut lagi.
Tangan kananku sudah meronta-ronta, sedangkan tangan kiri mulai membeku, membakar dan menghujat karena tegangnya rasa cinta yang kendor karena amarah. Tiap jari kukerahkan kekuatan jiwa penuh penderitaan dalam uap-uap kehidupan yang menimbulkan hujan jarum penusuk hati dalam palung terdalam.
Aku menyebutnya cinta, tapi aku menyebutnya siksa…
Bintang Suhadiyono, Minggu 23 Agustus 2009, 00.35 WIB… dengan bahagia, ia menulis…

Read More …

Selembar kertas terbentang luas didalam kesepian yang mengusik tiap lirik lagu yang kudengarkan dengan meneteskan darah dan air mata keemasan, tanda memuncaknya suatu emosi kediaman hati dan keabadian zaman dimulainya suatu kehidupan baru yang selalu kusebut dengan “seni”.
Kali ini mungkin ada yang tiada percaya akan angan dan rasa yang kualami dengan penjejakan hati dibawah kesadaranku seorang, seolah-olah pertanda diamnya bintang dan langit diantara sigma dan omega, diantara awal dan akhir yang tak berujung. Menurutku, apalah yang kita diamkan selama ini bila kediaman itu sendiri mendiami kita seorang diri.
Lingkaran, apakah itu? Bagaimana bentuknya? Apa warnanya?
Hahaha, itulah yang kusebut “seni hidup”. Pemuncakan dan perenungan dari suatu lingkaran kehidupan kita yang terdalam sehingga membuat suasana nafas dan hati yang memungkinkan kita untuk selalu bernafas dan mengedipkan mata untuk orang-orang yang kita cintai. Membentuk sebuah lingkaran sempurna yang tak berujung takdir dan hasrat, membentuk suatu spektrum kesederajatan yang melebihi apapun. Bukan diawali oleh nafas tapi dengan cahaya kehangatan dari dalam diri kita yang tiada berakhir sempurna.
Jadi, apakah itu “hidup”?
Hahaha, tafsirkanlah sendiri…
Karena apapun yang kau katakan adalah rantai dan belenggu…
Bintang Suhadiyono, Sabtu 15 Agustus 2009, 20.16 WIB… dengan kebingungan, ia menulis…

Read More …